Diplomasi Hati ke Hati Jepang-RI
JAKARTA - Duta Besar Jepang untuk Indonesia yang baru Yoshinori Kantori menyatakan senang saat berkunjung ke Indonesia. Dia kagum atas keramahan orang Indonesia, ini merupakan bukti hubungan Indonesia dan Jepang baik baik saja.
Indonesia juga merupakan negara yang sangat bersimpati terhadap Jepang ketika Jepang tengah mengalami bencana tsunami dan gempa pada 11 Maret lalu.
"Jepang sangat bangga memiliki Indonesia yang hadir sebagai mitranya," menurut Duta Besar Jepang untuk Indonesia Yoshinori Kantori saat perkenalannya bersama wartawan di Jakarta, Jumat (10/6/2011).
Dubes Yoshinori juga akan menjalin hubungan "hati ke hati" yang merupakan doktrin dari Perdana Menteri Fukuda pada tahun 1977.
Dubes Yoshinori mengaku dirinya saat ini masih mempelajari Bahasa Indonesia.
"Saya masih belajar Bahasa Indonesia dan ingin mengenal jauh Indonesia serta ingin mengujungi beberapa kota dan tempat terindah di Indonesia," lanjut Duta Besar Yoshinori.
Sebelumnya, Dubes Yoshinori hanya bisa melihat Indonesia di peta. Dirinya sadar wilayah Indonesia lima kali lipat lebih besar dari Jepang, terdiri dari banyak pulau dan banyak suku. Kini sesampainya di Indonesia, dia benar-benar menyaksikannya.
DIPLOMASI KULINER AMERIKA OBAMA
“Thank you for the bakso, nasi goreng, emping, kerupuk, semuanya enak,” ucap Obama di Istana Negara. Hal ini mengingatkan beberapa waktu lalu, saat saya berkunjung ke US Embassy menemui seorang sahabat berkebangsaan Amerika Serikat. Pada saat makan siang, di dalam area US Embassy ada dua kantin: Indonesian Food dan American Food. Saya mengatakan kepadanya, bahwa saya memilih kantin ‘American Food’. Lalu, ia bertanya, “Why did you choose the lunch menu at American Food?” Lantas, saya menjawab, “Because I was in the United States”. Kami berdua pun tertawa.Sungguh, diplomasi adalah seni paling sederhana dan tua antara dua pihak dan biasanya merupakan misi kunjungan kenegaraan. Hal yang sangat wajar. Apalagi,“Indonesia bagian dari diri saya,” ucap Obama ketika menyampaikan pidato publik di Balairung Kampus UI. Suasana yang hangat inilah yang mencairkan tentang persaingan diam-diam antara Amerika dan Cina di kawasan Asia. Dalam Konferensi Tingkat Tinggi ASEAN, Juni lalu, Menteri Luar Negeri Amerika Hillary Clinton tegas mengatakan, “Stabilitas kawasan Asia menjadi perhatian Amerika.” Bukan sebuah kebetulan dan kecuali Indonesia, semua negara yang dikunjungi Obama kali ini memiliki hubungan kurang mesra dengan Cina. Jepang sedang bermasalah dengan Cina. Apalagi, di Asia Tenggara, Cina makin menunjukkan kehadirannya setelah penandatanganan perjanjian perdagangan bebas ASEAN-Cina, awal tahun ini. Perjanjian itu memberikan akses bagi produk buatan Cina ke pasar Asia Tenggara.
Namun, R. William Liddle, Profesor Ilmu Politik, The Ohio State University, Columbus, Ohio, AS mengatakan bahwa posisi Indonesia terletak jauh di bawah posisi Amerika dalam percaturan politik global masa kini. Di panggung dunia, Indonesia belum menjadi pemain sedang, apalagi besar. Lebih terperinci, sumber daya politik yang dimiliki Indonesia dan bisa dimanfaatkan untuk membantu atau melawan Amerika, tentu demi mengajukan kepentingan Indonesia sendiri, masih sangat sedikit dibandingkan dengan negara-negara lain. Kenyataan itu berarti bahwa Indonesia gampang dilupakan atau dikesampingkan pemain lain. (Kompas, 9 November 2010)
Berangkat dari sini, kita bisa “membaca” dengan terang betapa “cantik”-nya diplomasi ‘kuliner Nusantara’ Obama memainkannya, pada saat popularitas Obama dan kekuatan Partai Demokrat di Amerika tak sekuat sebelumnya. Meskipun, apa yang dia lakukan sekarang mendapat pengawasan ketat dari Partai Republik.
Lalu, semua berpulang kepada negeri ini menyambutnya (termasuk bagi kelompok kontra kunjungan Obama). Ambil contoh yang paling mudah, kita online facebook, tahukah kita bahwa server facebook berada di wilayah kedaulatan AS? Kalaupun kita connect ke internet tanpa membuka facebook pun anda tetap memanfaatkan teknologi AS karena kabel bawah laut untuk sambungan Internet kita adalah buatan AS dan pemeliharaannya pun dari pemerintah AS. Kita punya Handphone? Hardware-hardware yang digunakan untuk menciptakan HP kita ataupun perangkat relay-relay tower sinyal HP adalah buatan AS. Bagi mahasiswa, tidak perduli anda mahasiswa FISIP, Komunikasi, MIPA, Teknik atau apapun jurusan anda, tahukah anda bahwa banyak teori-teori atau gagasan-gagasan di dalam buku anda yang merupakan hasil pikiran dari orang AS? Contoh tersebut hanyalah contoh kecil dari betapa bergantungnya kita terhadap pemerintah AS. Masih ada contoh yang lebih besar seperti: hutang luar negeri, kepemilikan obligasi, satuan kurs mata uang, geopolitik, eksport-Import dan lain-lain. Kita terlanjur hidup di dunia yang masih cenderung ke struktur Unipolar (walaupun sekarang sudah ada gejala-gelaja orientasi Multipolar).
Bagaimana grand strategy Amerika Serikat terhadap Indonesia? Benar bahwa ada grand strategy Amerika Serikat terhadap Indonesia. Tetapi yang penting adalah apa isi grand strategy tersebut? apa benar karena Indonesia mayoritas Islam lantas ada sentimen untuk terus-terusan menekan Indonesia dengan dasar analisa koalisi Yahudi-Kristen plus agenda kapitalisme internasional. Kapitalisme internasional bisa berjalan bersama-sama konsep liberal tanpa adanya dukungan gerakan Yahudi maupun Kristen, hal ini cuma memperdalam permusuhan lama yang dibawa oleh sejarah. Apa yang mendasari grand strategy Amerika tentunya kepentingan nasional yang diperluas dalam politik luar negeri. Penguasaan SLOC (garis navigasi laut) di wilayah Indonesia, jaminan penguasaan sumber-sumber alam penting berupa gas, minyak dan emas, serta berkiblatnya Indonesia ke Amerika adalah agenda terpenting yang mendasari politik luar negeri Amerika Serikat terhadap Indonesia.
Kasus radikalisme Islam. Saya hanya ingin memastikan kepada segenap pembaca bahwa kasus radikalisme Islam adalah salah satu bentuk pengungkit persoalan yang saya maksud dalam uraian diatas. Peranannya sangat vital dalam hal untuk mengembalikan kemesraan hubungan Indonesia-AS, tidak ada yang kehilangan muka dalam pecairan program IMET, tidak ada yang menelan ludah dalam pencabutan embargo militer AS. Ke depan diharapkan hubungan Indonesia-AS semakin erat sebagai partner strategis menghadapi kebangkitan China yang akan segera menjadi negara superpower. Tetapi Indonesia lagi-lagi mengulangi sejarah Orde Lama maupun Orde Baru dengan memainkan kartu diversifikasi hubungan luar negeri dengan alasan independensi dan harga diri serta kekhawatiran tergantung pada satu negara superpower. Inilah sebabnya isu gerakan radikal Islam (yang sebenarnya masalah kecil yang akan segera habis popularitasnya) masih saja ada.
Fakta bahwa hampir seluruh kebijakan luar negeri AS bisa direferensikan ke hasil studi dari the Brooking Institute, RAND, serta sejumlah lembaga penelitian yang ada di universitas terkenal di Amerika menunjukkan bahwa isu terpenting adalah dalam soal penguasaan power, militer, politik, ekonomi. Baik kaum neocon, liberal, maupun realist Amerika Serikat sedang memperhitungkan sebuah kalkulasi jangka panjang yang menjamin dominasi AS di dunia internasional. Motivasi power tersebut begitu kuatnya, sedangkan motivasi sentimen keagamaan hanya mengikuti dibelakang, inipun karena masyarakat Amerika Serikat (ternyata) termasuk menganggap penting soal agama bila dibandingkan dengan masyarakat Eropa.
Jadi, makna kunjungan Obama ke Nusantara adalah sikap kejujuran politik luar negeri Indonesia dibawah sungguh-sungguh anti kolonialisme, anti hegemoni dan non blok. Sikap Indonesia yang jauh lebih jujur dalam soal nilai-nilai kemanusiaan internasional. Meskipun rakyat Indonesia mudah dihasut kesana kemari, ketika kemajuan pembanggunan dan tingkat pendidikan semakin tinggi, potensi kepemimpinan regional Indonesia tidak akan pernah hilang.
“Why did you choose the lunch menu at American Food?” Lantas, saya menjawab, “Because I was in the United States”. Kami berdua pun tertawa.